Manusia telah berhasil mengirim astronaut ke luar angkasa selama lebih dari setengah abad, dan dalam beberapa dekade mendatang, eksplorasi luar angkasa akan semakin jauh, bahkan hingga ke Mars. Salah satu tantangan terbesar dalam perjalanan panjang ini adalah makanan. Masa depan makanan luar angkasa Apa yang dimakan astronaut ? Bagaimana cara astronaut mendapatkan makanan yang cukup bergizi, tahan lama, dan tetap enak di lingkungan tanpa gravitasi?
Seiring kemajuan teknologi, ilmuwan dan peneliti terus mengembangkan solusi inovatif untuk memastikan astronaut dapat bertahan hidup dan tetap sehat di luar angkasa.
1. Tantangan dalam Menyediakan Makanan di Luar Angkasa
Makanan luar angkasa tidak bisa sembarangan. Berbeda dengan di Bumi, makanan untuk astronaut harus memenuhi beberapa kriteria utama:
-
Tahan lama: Makanan harus bisa bertahan berbulan-bulan hingga bertahun-tahun tanpa basi atau kehilangan nutrisinya.
-
Mudah dikonsumsi: Astronaut tidak bisa memasak atau makan dengan cara biasa karena lingkungan mikrogravitasi membuat makanan dan cairan mudah melayang.
-
Bergizi tinggi: Perjalanan ke luar angkasa membutuhkan energi besar, sehingga makanan harus cukup kalori, protein, vitamin, dan mineral.
-
Ringan dan efisien dalam penyimpanan: Setiap gram berat dalam roket sangat berharga, jadi makanan harus ringan dan tidak memakan banyak tempat.
-
Minim limbah: Tidak ada tempat pembuangan sampah di luar angkasa, sehingga makanan harus menghasilkan sesedikit mungkin limbah.
2. Sejarah dan Evolusi Makanan Luar Angkasa
Pada misi luar angkasa awal seperti program Mercury (1961–1963), makanan astronaut berbentuk pasta dalam tabung mirip dengan pasta gigi. Rasanya kurang enak dan sulit dimakan.
Seiring perkembangan teknologi, program Apollo (1969–1972) mulai menggunakan makanan beku-kering (freeze-dried), yang hanya perlu ditambahkan air sebelum dikonsumsi.
Pada era Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), astronaut mulai mendapatkan makanan yang lebih bervariasi, termasuk makanan kalengan, makanan siap saji yang dikemas vakum, dan bahkan beberapa makanan segar yang dikirim dari Bumi.
Namun, dengan rencana perjalanan ke Mars yang bisa memakan waktu lebih dari satu tahun, makanan harus lebih inovatif, tidak hanya dari segi ketahanan tetapi juga kemampuan untuk diproduksi di luar angkasa.
3. Teknologi Masa Depan untuk Makanan Astronaut
Untuk mendukung misi luar angkasa jangka panjang, para ilmuwan telah mengembangkan beberapa inovasi dalam makanan astronaut:
a. Pertanian Luar Angkasa: Menanam Makanan di Ruang Angkasa
Karena pengiriman makanan dari Bumi ke Mars akan sangat mahal dan terbatas, astronaut perlu menanam sendiri makanan mereka.
NASA dan berbagai badan antariksa lainnya telah melakukan eksperimen menanam tanaman di luar angkasa menggunakan hydroponics (tanpa tanah) dan aeroponics (menggunakan udara dan kabut nutrisi).
Beberapa tanaman yang telah berhasil ditanam di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) meliputi:
-
Selada merah Romaine
-
Gandum dan kacang-kacangan
-
Cabai, tomat, dan sayuran hijau lainnya
Di masa depan, astronaut mungkin bisa menanam kentang seperti dalam film The Martian atau bahkan buah-buahan dan kacang-kacangan untuk memenuhi kebutuhan gizi mereka.
b. Daging Buatan dan Protein Alternatif
Daging segar sulit untuk disimpan dan dikirim ke luar angkasa. Oleh karena itu, alternatif seperti daging sintetis dan protein berbasis tumbuhan sedang dikembangkan untuk menyediakan sumber protein yang lebih praktis.
Teknologi bioprinting 3D memungkinkan pembuatan daging sintetis dari sel hewan tanpa perlu memelihara ternak. Dengan cara ini, astronaut dapat menikmati steak atau burger tanpa harus membawa hewan hidup ke luar angkasa.
Selain itu, protein dari ganggang dan mikroba juga sedang diteliti sebagai sumber makanan berprotein tinggi yang bisa tumbuh dalam kondisi ekstrem.
c. Makanan Cetak 3D
NASA telah mengembangkan printer makanan 3D, yang memungkinkan pembuatan makanan segar di luar angkasa menggunakan bahan baku kering.
Misalnya, astronaut dapat mencetak pizza atau pasta dengan kombinasi bahan dasar protein, karbohidrat, dan lemak yang disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi mereka.
Makanan cetak 3D juga dapat dibuat dengan rasa dan tekstur yang bervariasi, sehingga astronaut tidak bosan dengan menu yang monoton.
d. Fermentasi dan Proses Pengawetan Modern
Fermentasi adalah metode yang telah digunakan manusia selama ribuan tahun untuk mengawetkan makanan.
Para peneliti sedang mengembangkan cara untuk memanfaatkan bakteri baik dalam fermentasi untuk menghasilkan makanan kaya probiotik di luar angkasa.
Makanan fermentasi tidak hanya tahan lama tetapi juga baik untuk kesehatan pencernaan astronaut, yang sering mengalami masalah di lingkungan luar angkasa.
4. Makanan yang Mungkin Dikonsumsi di Misi Mars
Jika manusia berhasil mencapai Mars dalam beberapa dekade mendatang, makanan yang dikonsumsi astronaut kemungkinan besar akan terdiri dari kombinasi berikut:
-
Sayuran segar dari pertanian hidroponik seperti selada, bayam, dan tomat.
-
Protein dari daging sintetis atau ganggang mikroba.
-
Karbohidrat dari sereal dan kacang-kacangan yang diproses.
-
Makanan cetak 3D dengan berbagai rasa dan bentuk.
-
Makanan fermentasi untuk kesehatan pencernaan.
5. Kesimpulan: Makanan di Luar Angkasa Akan Semakin Canggih
Dengan semakin majunya teknologi, makanan luar angkasa tidak lagi hanya berupa pasta dalam tabung atau makanan beku-kering yang hambar.
Dalam beberapa dekade ke depan, astronaut mungkin akan menikmati makanan segar, daging buatan, dan bahkan hidangan cetak 3D yang disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi mereka.
Penelitian tentang makanan luar angkasa juga memberikan manfaat bagi Bumi. Teknologi yang dikembangkan untuk misi Mars dapat membantu menciptakan solusi untuk kelangkaan pangan, pertanian berkelanjutan, dan pengurangan limbah makanan di planet kita.
Dengan begitu, eksplorasi luar angkasa tidak hanya membawa manusia ke bintang-bintang, tetapi juga membantu menciptakan masa depan yang lebih baik bagi seluruh umat manusia.